20 November 2016

Seminar Solo, kesiangan!!

Bicara tentang kota Solo, aku pernah menghabiskan waktu kurang lebih 1,5 tahun di kota ini untuk melanjutkan studi DIV di Poltekkes Kemenkes Surakarta jurusan Fisioterapi.

Waktu yang singkat, tapi meninggalkan banyak sekali kenangan. Hahaa. Terutama kenangan di kos putri Ghifari, milik ibu kos yang super duper baik hati. Bu Tatik namanya.

Hari ini, dengan menggunakan transportasi bus Shantika jurusan Semarang-Solo, aku dan mbak Hanafi berangkat menuju kota Solo untuk mengikuti seminar NMT (Neuro Muscular Tapping) yang dilaksanakan di kampus kita dulu. Pokoknya tentang kinesiotapping yang bisa diaplikasikan ke syaraf dan otot.

Rencana awal, kita berdua mau naik motor aja. Tapi karena nggak diizinkan sama ibunya mbak Hanafi, jadilah kita naik bus.
Rencana awal juga, kita mau berangkat jam 05.00 pagi tadi via terminal Sukun Banyumanik. Motor kita titipkan di penitipan motor. Tapi apa dayaaa.. kita bangun kesiangan!!! Hahaa

Aku bangun 05.30, warbiyasaah!! >_<
Mandi super kilat, dandan rapi, langsung cus diantar bapak sampai depan SMP N 16. Mbak Hanafi udah nunggu. Dia juga kesiangan ternyata.

Waktu sampai di Jerakah, ada satu bus Shantika jurusan Semarang-Solo yang udah standby. Pikirku nggak usah sampai sukun lah, kita naik dari jerakah aja. Tapi bingung, motor mau dititipkan dimana? Akhirnya diputuskan, motor aku titipkan di kampus DIII ku dulu (Stikes Widya Husada) di Krapyak. Udah bolo juga sama pak satpamnya, jadi santai. Makasih pak yang aku lupa namanya. ^_^

Dari kampus WH sampai depan lampu merah Suharti, kita berdua jalan cepet. Anggap aja olahraga. Begitu sampai depan, bapak ojek bilang kalau bus shantika yang kita liat tadi barusan aja berangkat. Baguuus!!! Kita disuruh nunggu 30 menit lagi. Nunggu bus selanjutnya sambil ngitungin jumlah motor yang lewat. Eeh..ada bapak2 pakai jaket merah Mataram Sakti. Ketawa lah akuu, ingat obrolanku sama dia. Hahaha!!

Bus Shantika selanjutnya dateng, kita naik. Pakai masker, off in ac di atas kepala, tidur. Mbak Hanafi sih yang tidur, aku jagain dia aja. Dia harus tetap muslimah walau saat lagi tidur. Haha.
Kita berdua nggak begitu kuat sama ac bis. Pasti dimatiin ac nya. Kebiasaan ini juga aku lakukan kalau lagi naik bus patas luar kotaan.

Jam sekarang menunjukan waktu 07.56. Empat menit lagi seminar mulai, dan kita baru sampai Salatiga. Emeiziing! Haha. Nggak apalah, senyampainya aja. Kataku ke mbak Hanafi. Nanti sampai UMS, kita dijemput sama temennya mbak Hanafi.

Satu temenku yang udah sampai di tempat seminar, kusuruh buat cari tempat duduk yang strategis. Dua dari depan lah kalau bisa. Jangan di depan persis juga, takut dikira pembicaranya malah. #gayaaa# Hahaha.

Seminar=SKP, iya memang dua hal itu nggak bisa dipisahkan. Banyak yang pengen SKP nya aja, ilmunya belakangan. Tapi ahsudahlah, terserah penyikapan dari masing-masing. Hehe

"Semoga pas sampai sana, seminar belum dimulai yaa." "Impossible!! Haha. Pasti udah mulai laah, nduk tikachuu!!" "Biarlah mbak, lakon teko keri." ^o^

Share:

09 November 2016

Safari di Taman Nasional Baluran (2)

Oke.. setelah cerita tadi siang sempat terhenti sementara karena aku harus siap-siap buat berangkat kerja, sore yang syahdu ini aku akan ajak kalian lagi buat jalan-jalan di imajinasi kalian masing-masing. Hehee. Yang udah pernah kesana silahkan bernostalgia tentang tempat ini, dan yang belum pernah kesana aku doakan semoga kalian diberi kesempatan ke tempat yang terkenal dengan sebutan "Africa van Java" ini. ^_^  

Kamis, 26 Maret 2015 @ Taman Nasional Baluran, 13.30 WIB 

Sesampainya di gerbang masuk TNB, aku segera menuju pos registrasi untuk melapor ke petugas yang berjaga kalau aku mau masuk ke dalam TNB saat itu juga. Aku masih ingat betul wajah dan nama bapak petugas TNB yang kala itu menyambutku. Namanya Pak Woto. 

Reaksi beliau sempat kaget dan nggak habis pikir ketika tau kalau aku pergi seorang diri, cewek pula. Hehe. Beliau menyarankan aku untuk masuk besok pagi aja, sekalian liat sunrise di Pantai Bama. Karena kalau dipaksa masuk saat itu juga, sampai di dalam TNB malah kesorean bahkan kemaleman. Jadi diambil baik dan amannya aja, lebih baik masuk besok pagi. Aku pun akhirnya manut sama si bapak. 

Lalu, dimanakah aku menginap? Aku sempat tanya-tanya ke pak Woto seputar penginapan yang ada di dalam TNB. Beliau bilang, kalau sendirian mending di homestay aja, jangan di dalem. Soalnya tarifnya lumayan mahal. Masih mending kalau dateng rombongan, bisa sharing cost sama yang lain. 

Dan pada akhirnya pak Woto ngebantu aku buat cari homestay di seputaran wilayah TNB. Pak Woto menghubungi temannya yang kurasa pemilik calon homestay yang bakal aku tinggali semalam. Nggak butuh waktu lama, akhirnya si bapak pemilik homestay mendatangi kita berdua. Aku kenalan sama bapak homestay, namanya Pak Imam. 

Ahhh.. ini jodoh sekali aku bisa langsung ketemu sama beliau. Karena dari berbagai sumber informasi yang aku baca sebelum pergi ke TNB, banyak yang merekomendasikan homestay pak Imam ini. Alhamdulillah. ^_^. 

Setelah mengucapkan terimakasih dan pamit ke Pak Woto, aku dan Pak Imam langsung meluncur ke homestay.


Gerbang masuk Taman Nasional Baluran ini terletak persis di pinggir jalan raya, dan bersebelahan dengan Desa Wisata Kebangsaan. Ketika masuk di Desa ini, kalian bakal menjumpai banyak sekali rumah penduduk yang dijadikan sebagai homestay. Termasuk Homestay Baluran Indah milik Pak Imam. 

Seakan tau kalau aku bisa aja merasa bosan karena harus diem di dalam homestay, Pak Imam ngajak aku berkeliling Desa Wisata. "Ayoook Pak Imam", jawabku bersemangat. Seperti konsep desa wisata pada umumnya, desa ini begitu rapi dan bersih. Kearifan lokalnya terasa sekali. Masyarakatya multikultural, semua melebur jadi satu. Indah teman-teman. ^_^

 

Sambil mengendarai sepeda motor, Pak Imam terus bercerita seputar Desa Wisata Kebangsaan. Aku mendengarkan sambil sibuk memotret objek indah yang ada di tempat ini. 

Di ujung Desa Wisata, ada sebuah pantai. Namanya Pantai Pandean. Banyak perahu yang bersandar di pinggir pantai ini. Dari situ aku tau kalau sebagian masyarakat DWK bermatapencaharian sebagai seorang nelayan.

 

Menjelang maghrib, kita berdua kembali lagi ke homestay. Pak Imam memintaku untuk bersih-bersih badan kemudian dilanjutkan istirahat karena besok pagi aku harus bangun subuh buat liat sunrise di Pantai Bama. Oh iya, tarif homestay Pak Imam ini per malam cukup kalian bayar seharga 50rb. Sedangkan untuk sewa kendaraan dan guide (Pak Imam) sendiri selama bersafari esok hari, aku merogoh kocek sebesar 150rb. 

Waktu mau tidur, Bapak telfon. Dia menanyakan apakah aku udah sampai di Surabaya atau belum. Hahaha. Yang kayak gini ini jangan dicontoh ya teman-teman. Sebenernya, kepergianku ke TNB ini tanpa izin lebih dulu ke Ibu Bapak. Aku pamitnya ikut seminar di Surabaya. Kalau ini aku nggak bohong, karena beneran ikut seminar. Aku bilang ke bapak kalau aku menginap di kos temen yang ada di Surabaya. Padahaaal..?!! Hahaa. Dan waktu telfon, si Bapak pengen bicara sama temenku. "Yasalaaam..temen siapa paak?!" batinku. Buru-buru aku matikan telfon dari Bapak dengan alasan aku capek dan temenku belum pulang kerja. Ahh.. berulang kali, maafkan anakmu ya pak. ^_^ 

Jum'at, 27 Maret 2016 @ Homestay Baluran Indah, 05.00 WIB 

Satu kata, kesiangan!! >_<. Hahaha. Setelah shalat subuh, aku bergegas nyamperin Pak Imam. Aku tanya ke beliau, jam segini kita bisa dapet sunrise Pantai Bama atau nggak. Pak Imam bilang kalau ini udah kesiangan, kalau dipaksa masuk ke dalem TNB malah nggak bisa liat sunrise. Jadilah Pak Imam ngajak aku ke Pantai Pandean lagi buat liat sunrise disana yang nggak kalah indah. Tak apalah, aku juga bukan tipe pengejar sunrise. Hehe

 

Setelah puas liat sunrise di Pantai 
Pandean, Pak Imam langsung membawa aku masuk ke TNB. Karena kemarin aku udah bilang ke Pak Woto kalau mau masuk jam 06.00 pagi. Bener-bener indah pemandangannya, aku betah lama-lama di desa ini. Cerah, bahkan Gunung Raung pun kelihatan. Awesome!! ^_^

 

@ Taman Nasional Baluran, 06.00 WIB 

FYI, di dalam Taman Nasional Baluran kamu bisa melihat kawasan Hutan Evergreen (yang masih hijau meskipun kemarau), luasnya Savana Bekol, Mangrove Trail, Pantai Bama, dan gagahnya Gunung Baluran. Paket komplit. Untuk masuk sampai ke dalam dari pos jaga, kira-kira membutuhkan waktu kurang lebih 30-45 menit. Jauh memang. Makanya pakai sepeda motor, kalau jalan kaki kok kayaknya mendzalimi si kaki. Haha. Sebelum masuk, kita berdua narsis-narsisan dulu.. Haha

 

Tiket masuk sudah ditangan, markicaaaab Pak Imam!!! Welcome to Baluran..!! ^_^

 

Memasuki kawasan Hutan Evergreen. Disepanjang perjalanan, aku banyak menjumpai sekumpulan kupu-kupe berwarna-warni yang terbang rendah, lalu ada ayam hutan juga. Bagus ayamnya, bulu-bulunya cantik kalau kena cahaya matahari. Ada kera hutan, burung, dan kalau "beruntung" bisa ketemu sama macan tutul. #doanya sih jangan sampai ketemu. Kata Pak Imam, populasi macan tutul di TNB udah mulai langka. Hanya tinggal beberapa aja. Hal ini berdasarkan info dari polisi hutan di TNB yang melakukan survey. 

Foto bersama tengkorak banteng yang jadi fauna endemik di TNB.

Savana Bekol...!!

Pantai Bama!! Private beach. Airnya tenaaang banget, nggak ada ombak sama sekali. Hati-hati sama barang bawaan atau makanan yaa. Monyetnya agak ngegemesin. Haha

 

Mangrove Trail!!

Ngobrol dan ngopi-ngopi dulu sama polisi hutan TNB. Ada mas ferdi yang lulusan IPB dan mas kaos merah yang aku lupa namanya. Hehe

Kurang lebih 4 jam lamanya aku bersafari ke TNB. Nggak sempet ke Gardu Pandangnya dan belum liat kawanan Banteng. Suatu hari nanti bolehlah ngulang kesini lagi sama kamu. Iyaaa...kamu!! Hahaha

Di Savana Bekol ini jangan berharap ada sinyal. Cerita polhut TNB, kalau mereka mau nelfon harus ke pos jaga di pintu gerbang masuk dulu. Lampu pun mati di jam 21.00 malam. 

Saatnya pulaaang. Karena sabtu pagi aku harus udah ada di Surabaya buat ikut seminar di RSUD Soetomo. Singkat tapi berkesan. Terimakasih Pak Imam, mas Ferdi, Mas kaos merah, Bu Kantin, Icha, Taruna, Mas sopir bis Indonesia Abadi beserta mas kondektur. Khususnya buat Ibu dan Bapak. Dan selebihnya milik Allah swt karena perlindunganNya. 

See You Sooooooon, Baluran..!!! ^_^

 
Share:

Safari di Taman Nasional Baluran (1)

Kalau diingat-ingat waktu zaman SD dulu pas pelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS), Ibu Guru pernah menjelaskan kalau Indonesia memiliki banyak sekali Taman Nasional yang terletak di ujung barat sampai timur wilayah Indonesia. Yang di setiap tempat memiliki flora dan fauna endemiknya masing-masing. 

Dari sekian banyaknya Taman Nasional yang dijelaskan oleh beliau, yang termemori dengan jelas diingatankanku saat itu cuma ada beberapa aja. Salah duanya adalah Taman Nasional Ujung Kulon yang berada di Jawa Barat dengan fauna endemiknya berupa Badak Bercula Satu dan Taman Nasional Baluran yang berada di Jawa Timur dengan fauna endemiknya berupa Banteng. 

Dan dalam hati, aku sempat berkata..."semoga suatu saat nanti aku bisa kesana." Itu adalah do'a seorang bocah SD yang baru dikabulkan sama Allah swt ketika sudah dewasa. Lama baru bisa terealisasi, tapi setidaknya aku diberi kesempatan untuk pergi ke salah satu Taman Nasional yang ku sebutkan tadi. Taman Nasional Baluran. 

Okee... aku pemanasan jari-jari dulu buat nulis catatan perjalanan yang mungkin bisa panjang, tapi mungkin juga pendek karena ada beberapa cerita yang akan ku persingkat. 

Perjalanan ini aku lakukan udah satu tahun yang lalu, jadi bisa dibilang ini merupakan cerita late post

Berawal dari ketika aku baca-baca majalah parenting di tempat kerja, ada artikel yang isinya menceritakan perjalanan sebuah keluarga yang lagi bersafari ke Taman Nasional Baluran. Ingatanku langsung flashback ke zaman SD yang aku ceritakan tadi. Dan makin meyakinkan diri kalau aku harus kesana. 

Mulai lah dari situ aku langsung cari info tentang bagaimana aku bisa sampai dan bertahan disana. Informasi tentang transportasi dan akomodasi udah didapat, tinggal memastikan tanggal keberangkatannya aja. 

Ini yang susah, karena harus menyesuaikan dengan jadwal temen-temen yang lain. Jadi jauh-jauh bulan, aku udah bilang kalau aku mau ambil libur selama empat hari. Persiapan bulan Januari 2015, berangkat Maret 2015. Tiga bulan mameen..lamanya, udah nggak sabar pengen go away! Hahaa 

Rabu, 25 Maret 2015 @ Terminal Terboyo Semarang, 22.00 WIB 

Keberangkatanku diantar sama Ibu dan Bapak. Nampak kekhawatiran di wajah dan pikiran beliau berdua, mengingat aku melakukan perjalanan seorang diri tanpa satupun teman yang menemani. Iyaa.. aku sendirian. Sebelum hari H keberangkatan, aku udah koar-koar ke teman-teman kalau aku mau ke TNB, kalau ada yang tertarik dan mau ikut silahkan aja. Aku malah seneng banget ada temannya. Tapi nyatanya nggak ada. Selain kendala jam kerja, juga kendala biaya yang jadi permasalahan. Yaudahlah, jadi solo traveller aja. ^_^ 

Berangkat menggunakan Bis Patas Indonesia jurusan Semarang-Surabaya dengan tarif 100rb rupiah (termasuk kupon makan) dan waktu tempuh sekitar 7 jam perjalanan. Waktu itu bis dalam kondisi lengang, cuma ada beberapa orang aja termasuk aku. Karena melakukan perjalanan dimalam hari, pastilah pemandangan di luar juga nggak begitu kelihatan, jadi aku memilih buat tidur. Jam 03.00 pagi, bis berhenti di salah satu rumah makan di daerah Tuban. Ini sarapan terpagi. Hahaa. Makan terlalu pagi udah, lanjut perjalanan lagi menuju Surabaya. 

Kamis, 26 Maret 2015 @ Terminal Bungurasih/Purabaya, 05.30 WIB 

Sampai di terminal dan begitu turun dari bis, aku udah berasa kayak artis yang langsung diburu wartawan. Tapi ini ceritanya beda. Aku cuma penumpang dengan wajah lesu ngantuk yang diburu para bapak-bapak sopir taksi, daihatsu, ojek menawarkan jasa transportasi. Maaf ya.. nggak ada yang aku pilih. Aku cuma mau bapak mertua aja, pak. Hahaha.. #Abaikan# 

Setelah bersih-bersih di fasilitas toilet yang udah disediakan dan berbayar, aku langsung menuju terminal keberangkatan yang disana udah ada banyaaaaak banget bis-bis yang udah mangkal #duh bahasanyaa..haha# sesuai jurusan yang tertera di papan penunjuk. 

Aku takjub waktu lihat terminal ini. Menurutku ini tertata sekali kalau dibandingkan sama terminal di kota sendiri #colek Bapak Wali.Hehe# 
Insya Allah kalau kalian kesini, udah nggak perlu takut nyasar atau bingung naik bis jurusan apa. 

Untuk melanjutkan perjalanan ke Taman Nasional Baluran yang terletak di Situbondo jawa Timur ini, aku harus menempuh perjalan lagi selama kurang lebih 6 jam. Sesuai rencana, aku memutuskan buat lewat jalur Probolinggo-Situbondo, bukan terusan ke Jember-Situbondo. Jadi pilahan bis selanjutnya jatuh ke Bis Patas Akas Asri jurusan Probolinggo turun di Terminal Banyu Angga. 

Tarif yang aku bayarkan sebesar 28rb dengan waktu tempuh selama 2 jam perjalanan. Ini yang aku suka kalau pergi menggunakan transportasi bis. Yang bisa dilihat banyak, jadi merasa rugi kalau mau tidur. Seperti perjalanan menuju Probolinggo, jejeran Pegunungan Hyang mulai memamerkan keindahannya. Masya Allah. Mata yang tadinya kerasa berat banget udah mau merem lagi, akhirnya dapet asupan vitamin A. ^_^ 

@ Terminal Banyu Angga, 08.30 WIB 

Sampai di terminal, aku dioper ke bis lain lagi untuk melanjutkan perjalanan. Sebuah bis ekonomi Indonesia Abadi yang wajah sopir bisnya ini campuran antara wajah komedian Bedu dan suaminya Mbak Reni #temen kuliah#, sedangkan wajah kondekturnya mirip sama wajahnya pemeran Ikal di film Laskar Pelangi. Dibayangin yaa.. Haha. 

Tarif yang aku keluarkan sebesar 36rb, dengan waktu tempuh kurang lebih 5 jam perjalanan. Aku memilih duduk di barisan paling depan bersebelahan sama seorang mahasiswi cantik yang kuliah di Malang dan mau pulang ke Situbondo, Namanya Icha. Tujuanku duduk di depan adalah biar ngeliat view nya enak, nggak terhalang sama kepala penumpang lain. Dan setelahnya aku baru tau, kalau apa yang aku pikirkan duduk di depan itu nyaman ternyata salah buesaaaar teman-teman!! Duuuuh!! Hahaha. Kapok! 

Aku lupa kalau karakter sopir bis Jawa Timuran ini udah pro, sekelas lah sama Vin Diesel di film fast furious. Aku nggak berhenti menggucap Asma Allah. Serius ini teman! Nggak kebayang kalau ibu ku naik bis ini, pasti dengan kekuatan "the power of emak-emak" nya, si ibu langsung nampol kepala si mas sopir sambil bilang, "Turunin aku sekarang" Hahaa.. mendadak ibu jadi anak abg. 

Sopir bis di daerah ini memang terkenal sama aksi ugal-ugalannya yang dibilang legal. Alhamdulillahnya aku bukan tipe pejalan yang mabukan. Banyak juga penumpang yang teriak kalau pas bis yang kita tumpangi ini papasan sama kendaraan kecil, bis kita nggak mau ngalah. Yang ada malah kendaraan-kendaraan kecil tadi yang minggir se minggir-minggirnya di pinggiran jalan. Warbiyasaaah!!! 

si Icha bilang, "Jangan kaget ya mbak, anggep lagi di sirkuit. Dinikmatin aja" Ya tapi nggak sengebut ini juga kalii. -_-. Tapi bener apa yang dibilang Icha, saking menikmatinya aku sampai ngantuk sendiri dan memilih buat tidur. 

Waktu lagi enak-enak tidur, aku dibangunin sama kondektur yang katanya udah sampai di Situbondo. Tapi aku bingung, kok bukan seperti tempat yang aku tuju. Untungnya ada si Icha, dia menjelaskan ke kondektur kalau aku mau ke Taman Nasional Baluran, bukan Gor Baluran. Elaaah si maaas kondek...tur. Dia gagal paham. Haha. Makasih Icha. 

Sepanjang perjalanan, Icha jadi tour guide on the bus. Dia banyak nunjukin tempat wisata apa aja yang ada di Situbondo. Salah satunya ada Pantai Pasir Putih yang nanti juga akan dilewati sama bis ini. Tapi dari semua keindahan Situbondo yang diceritakan sama si Icha, termasuk ketika aku merasa takjub sama pemandangan setelah gapura "Selamat Datang di Situbondo" yaitu berupa lautan lepas dan nampak Gunung Agung dari kejauhan sana, ada hal lain yang bikin aku..entahlah, susah dijelaskan sama kata-kata. Hehe #gaya# 

Adalah ketika bis melewati sebuah wilayah yang bernama "Panarukan" #nulis ini sambil merinding#. Icha tanya,"Mbak tau Panarukan?" Sambil pikiranku menerawang mengingat-ingat nama yang familiar ini. "Anyer-Panarukan, Cha. Kerja rodi zaman Gubernur Jendral Daendles." Bagi kalian yang suka sama sejarah, pasti tau tentang kisah pekerja zaman kolonial Hindia-Belanda yang membuka jalan dari ujung Jawa Barat sampai Ujung Timur Pulau Jawa. Icha tersenyum tipis, "Iya Mbak, ini jalannya". 

Icha turun di Terminal Situbondo. Sebelum turun, Icha ngasih aku cemilan berupa bakpia Malang. "Ini buat cemilan Mbak Tika nanti di perjalanan." Haaah...tau banget dia kalau aku kelaparan. haha. Kita juga tukeran pin BBM, dan diakhiri dengan ber-say goodbye. Terimakasih Icha. 

Satu pemikiran yang harus kamu pegang selama bepergian jauh sendirian. Asal niat berpergian kita baik, jangan takut sama keadaan sekitar yang baru kita datangi. Insya Allah masih banyak orang baik diluar sana. 

Dari terminal Situbondo ke Taman Nasional Baluran cukup ditempuh dengan waktu 1 jam perjalanan. "Yess, udah mau sampaiii..!!" batinku dalam hati. Jalan berubah menjadi agak menanjak dan di kanan-kiri jalan berupa hutan jati. Aku melihatnya kayak Alas Roban di Batang, Jawa Tengah.

Tapi apa yang terjadiii.. udah mau sampai malah bis yang aku tumpangi ini mogok. Akhirnya kita dioper ke bis kecil pintu dua. Yang didalemnya udah penuh berjubel sama penumpang lain. Apesnya, aku nggak kebagian tempat duduk dan harus berdiri diantara para laki-laki yang kalau dilihat dari penampilannya seperti Taruna Sekolah Akademi. Bener-bener nggak nyaman sama sekali. Aku nggak masalah sama posisiku yang berdiri nggak dapet tempat duduk. Yang aku permasalahkan adalah perlakuan kurang ajar yang dilakukan sama salah satu dari mereka. 

Aku coba bertahan dan masih bisa bersabar. Dan kesabaranku berbuah hasil. Ada salah satu Taruna juga yang beruntungnya dia dapet tempat duduk, mempersilahkan aku untuk duduk di tempat dia. Dia mengalah dan memilih buat berdiri disampingku. Mungkin dia menangkap ketidak nyamanan di wajahku ini. Pokoknya mah, terimakasih banyak yaa sudah menyelamatkanku dari sarang penyamunnya teman-temanmu. Dia orang baik kedua yang kutemui setelah Icha. ^_^

*Buat para wanita yang bepergian jauh sendirian, hal seperti ini juga harus dipikirkan. Ingat kata Bang Napi, "Kejahatan tidak selalu terjadi hanya karena ada niat dari pelakunya, tapi juga karena ada kesempatan! Waspadalah, waspadalah!!!" * 

Dan akhirnya setelah melalaui perjalanan panjang dan cerita yang beragam..sampai juga di depan gerbang Taman Nasional Baluran yang persis ada di pinggir jalan. Alhamdulillah. Terimakasih ya Allah.. Ibu Bapak, anakmu sudah sampai tempat tujuan. ^_^
Share:

07 November 2016

up to 3153 mdpl

Akhir bulan Oktober kemarin ku tutup dengan acara naik-naik ke puncak gunung bersama trio bolita. Anga, Pram dan Tanjung. Ini kali keempat aku naik gunung sama Anga dan Pram, kalau sama Tanjung baru dua kali. Kita berempat memilih naik ke gunung Sindoro via Sigedang atau jalur Tambi, Wonosobo.

Sesuai rencana, kita berangkat hari Sabtu pagi tanggal 29 Oktober 2016. Meeting point di rumah Anga daerah Gunung Pati.

Malam sebelumnya si Pram bilang kalau dia malah nggak enak badan, lututnya udah mulai kerasa sakit. Lalu ku bilang, "besok pagi datang lebih awal ke rumahku. Ku terapi sebentar itu lututmu". 

Sabtu pagi jam 07.30, Pram udah sampai di rumah. Ku terapi lututnya pakai sinar infra red sama ku pasang kinesiotaping sambil mulutku komat-kamit baca do'a biar lututnya nggak kambuh kayak waktu naik ke gunung Sumbing beberapa waktu yang lalu. Haha 

Jam 08.30 setelah pamit ke ibu bapak, aku dan Pram langsung cuus ke rumah Anga. Dan begitu sampai sana, ternyata Anga belum balik ke rumah dari jam 06.00 pagi. Kata ibunya Anga, Anga ini nunggu si Tanjung di kosan tapi kok nggak balik-balik. Baiklah, kita berdua nunggu Anga sama tanjung dulu sambil ngemil klepon ungu bikinan si ibu. 

*sambil nunggu Anga sama Tanjung, kita flashback bentar yaa.. gimana aku bisa dapet izin naik gunung dari ibu bapak. Haha* 

( Aku izin ke ibu udah jauh-jauh bulan kalau mau naik gunung lagi, mumpung si Anga pulang. Dan reaksi ibu cuma " Halaah..naik gunung lagi. " udah, cuma gitu aja reaksi jawaban dari ibu. Aku takjub teman-teman. Karena biasanya jawaban ibu akan panjang kali lebar dan berujung pada adegan mendiamkan aku sampai hari H. Tapi pas kemarin itu si ibu bener-bener kayak udah "sakarepmu". Dan bahkan ibu yang malah nyiapin logistik pendakian kemarin. Terimakasih ibu. hahaha. Lain ibu lain juga bapak. Menjelang hari H pendakian, bapak malah nyuruh aku batalin acara naik gunungnya karena cuaca lagi nggak kondusif. Sempat berdebat dikit waktu itu. Hehe, maaf ya pak yaa. Lalu keluarlah kalimat ampuhku buat ngayem-ayem si bapak biar nggak terlalu khawatir. " Percaya sama aku pak. Insya Allah aman. " Reaksinya kurang lebih sama kayak ibu. "Sakarepmu". I love both of them. ^_^ ) 
* flashback selesai. the end * 

 Kurang lebih 1 jam kita nunggu mereka berdua. Dan akhirnya datanglah si bongsor dan si gundul, Anga sama Tanjung. Sebelum berangkat kita berempat sarapan dulu sama masakan ibunya Anga -Aku manggilnya Mamak- 

Selesai sarapan, kita bongkar muat 
bawaan. Cek perkap jangan sampai ada yang ketinggalan. Prepare cukup, jam 10.30 kita berempat pamit ke Mamak sama bapak. Bismillahirrahmanirrahim. 

Perjalanan ke Wonosobo, kita memilih lewat jalur dalam ( Boja-Sukorejo-Temanggung-Wonosobo ) buat menghemat waktu. Dengan waktu tempuh kurang lebih 3 jam dan diguyur hujan yang deres banget di tengah jalan, akhirnya kita sampai juga di basecamp gunung Sindoro via Sigedang. 

Disini kita disambut sama Mbah Amin -dianggap sebagai juru kunci Gunung Sindoro- dan Mas Anas. Cuaca waktu itu lagi nggak bersahabat. Hujan terus mengguyur dari siang sampai sore. Setelah melakukan registrasi dan diberi wejangan oleh beliau berdua, kita memutuskan buat siap-siap berangkat dalam keadaan hujan. Hujan rindu. Haha... Apasiiiih!! ^~^  
Jam 15.30 kita berempat pamit ke Mbah Amin untuk berangkat, beliau berpesan untuk selalu berhati-hati baik lisan ataupun perbuatan. Kalau ada apa-apa segera menghubungi basecamp. 

Kita berempat berkumpul membentuk lingkaran kecil, berdoa semoga selama pendakian kita selalu dalam lindungan Allah swt. Aamiin. Dan nggak lupa tos "hoi" pelan, seperti yang biasa aku, Anga, Pram lakukan. Biar semangat. Pasukan Punk In Love berangkaaat!! Nama ini digagas sama Tanjung. Hahaha.. Tanjung Alay! Punk In Love adalah sebuah film Indonesia yang pemeran utamanya ada empat orang. Tiga cowok dan satu cewek. Persis sama formasi kita ini. 

Dari basecamp sampai ke pos bayangan memerlukan waktu kira-kira 45 menit perjalanan jalan kaki. Dengan kondisi jalan menanjak. Hujan pula. 

Tapi Alhamdulillah berkat do'a para ibu-ibu di rumah, ada mobil pick-up yang bersedia mengangkut kita sampai pos bayangan. Terimaksih mas yang aku nggak tau namanya. ^_^ 

Sampai di pos bayangan, kita membelah perkebunan teh untuk menuju Pos I. Waktu yang dibutuhkan kira-kira 30 menit. Pos I ini berupa tempat penimbangan daun teh. Disini kita istirahat sebentar buat sholat Ashar. Setelahnya kita lanjut jalan lagi menuju Pos II yang sepanjang perjalanan masih didominasi sama perkebunan teh. Waktu tempuh untuk sampai di Pos II kira-kira sama, 30 menit. 

Sama seperti Pos I, di Pos II ini bangunannya juga dipakai sebagai tempat penimbangan daun teh. Nah, sampai di Pos II inilah aku mulai ngerasa alergi gatal-gatal ku kambuh kalau dingin. Dan parahnya lupa nggak bawa obat anti alergi -Dextamin-. 

Yang lain sempet panik, tapi kutenangkan pikiran mereka kalau alergi ini nggak berlangsung lama, nanti ilang sendiri. Lanjut jalan lagi sampai di pos patok wesi. Disini kita nggak istirahat, tapi langsung jalan terus menuju Pos III. 

Perjalanan menuju Pos III ini kita mulai memasuki kawasan hutan belantara. Kondisi jalan terus menanjak. Dan aku nggak terlalu berharap ada banyak bonus landai karena jalur ini memang terkenal dengan tracknya yang terus menanjak. 

Adzan maghrib mulai terdengar, kita berhenti sebentar sambil minum,ngemil, dan menerapi kakinya Anga yang kram. Adzan maghrib selesai, perut udah terisi dan kaki Anga udah mendingan, kita lanjut jalan lagi. 

Diperjalanan kita ketemu sama rombongan pendaki lain yang mendirikan camp di area yang cukup datar dan lebar. Bisa buat mendirikan dua tenda. Kita disuruh mampir dulu ke tenda mereka, tapi kita menolak dan mau langsung lanjut aja ke Pos III. Dan yang membahagiakan, si mas pendaki ini bilang kalau Pos III udah deket. Kira-kira 15 menit lagi lah dari tempat mereka nge camp. Thanks mas infonya, kita berempat capcuuus lanjut jalan lagi. Dan bener aja, baru jalan sebentar kita udah sampai di Pos III Watu Tulis. 

Kita berhenti cukup lama disini buat ishoma. Masak air buat bikin minuman hangat sama makan nasi bungkus yang aku bawa dari rumah. Lauk dari ibu duet sama lauk dari mamak. Satu kata, nikmat. ^_^ 

Pas lagi asik makan, kita ketemu lagi nih sama rombongan pendaki yang mau naik. Mereka berempat cowok semua, dan cuma satu orang yang bawa tas ransel biasa. Tiga yang lain cuma bawa diri aja. Kulihat penampilan mereka ini keliatan santai bin nekat. Alas kaki yang mereka pakai bukan sandal atau sepatu standar pendakian. Tapi sandal trepes kayak yang di hotel-hotel itu. Senter pun cuma satu. Tenda juga mereka nggak bawa. Cuma bawa bekas MMT aja. Meeen.. itu mereka rock n roll banget!! edaan!! nggak tau apa cuaca lagi kayak gini. Bukan sangar, tapi ngawur. >_< Ahsudahlah, tinggalkan cerita tentang mereka. 

1 jam kita istirahat di Pos III Watu Tulis, kita beres-beres barang-barang lagi buat melanjutkan perjalanan. Tepat jam 20.00 kita start naik lagi. 

Dari Pos III menuju Pos IV yang di dominasi sama hutan mati bekas kebakaran yang melanda Gunung Sindoro beberapa waktu yang lalu. Jalan terus menanjak dan sampailah kita di Pos Watu Susu. Eeeh.. ketemu lagi sama pendaki nekat yang kita sapa di Pos III tadi. Mereka menggelar bekas MMT di tempat datar. Menawari kita buat istirahat di tempat mereka. Tapi lagi-lagi kita berterimakasih, karena kita lebih memilih buat istirahat sebentar, minum, kemudian lanjut naik lagi. Berpacu sama cuaca. Kita pamit ke mereka untuk lanjut naik lagi. 

Watu Susu menuju Pos IV Gardu Pandang ini yang kita rasa beraaaaat banget. Kita berada di ladang batu. Jadi harus aware banget kalau ada batu yang labil. Jangan sampai salah injak. Berasanya track ini kok nggak sampai-sampai dan nggak ada habisnya. Kita malah mikir kalau jangan-jangan Pos IV udah kelewatan dan kita nggak tau. 

Aku terus menanyakan ke Tanjung yang dari awal pendakian dia selalu jadi yang terdepan, terkokoh, terkuat dan tak tertandingi. Taruna harus kuat, nggak boleh lemah!! 

"Udah kelihatan belum njung plang Pos IV nya?" Dia jawab, Belum. Kutanya lagi, "Kira-kira jodohku udah keliatan belum njung?" Hahaha.. pada ketawa! :D 

Menuju Pos IV ini, Anga yang paling kewalahan. Dia mengeluh sesak nafas. Karena bau belerang yang mulai menyengat. Ditambah beban tas yang dibawa dia berat, track nanjak, dan lagi-lagi harus berpacu sama cuaca. Karena kabut udah mulai naik dan awan hitam yang mulai menggantung. Ah Ya Allah, nggak karuan kali perasaanku waktu itu. 

Tanjung memutuskan buat naik duluan, dia cari jalan buat memastikan Pos IV udah deket. Dan Alhamdulillah, teriakan Tanjung terdengar, " Pos IV!!! yok semangat!!! " kita bertiga bergegas ke arah suara Tanjung. 

Akhirnyaa.. Pos IV terjamah juga di jam 22.30. Kita memutuskan buat mendirikan tenda disini. Dengan tempat yang nggak bisa disebut datar dan agak miring, tenda kita bisa berdiri juga. Tenda si Ijo Great Outdoor kapasitas 6 orang jadi tempat tidur kita malam itu. 

Minggu, 30 Oktober 2016 

Selamat Pagi Semesta... ^_^
Bangun..sholat subuh..ngapelin matahari pagi beserta keindahannya..sarapan..bongkar tenda dan beres-beres perkap..foto-foto bentar..lanjut naik lagi. 

Semangat!!! Start dari Pos IV jam 06.30 Ladang batu II mulai kita lewati.
Etape -anggep lagi sepedaan- yang satu ini aku yang mulai melemah. Formasi terpecah jadi dua. Anga dan Tanjung, Aku dan Pram. 

FYI, selama pendakian yang aku lakukan bersama mereka, Pram selalu berdiri di belakangku. Ceritanya yang melindungi dan menjaga. Thankyou Praam. ^_^
Setelah jalan nanjak selama 1,5 jam, sampai juga kita di puncaaaak!!! Allahuakbar!! Hai Sindoro, kusapa kau beberapa waktu yang lalu dan baru sekarang bisa menyambangimu. 

Entah jodoh atau apa yaa.. kita ketemu lagi sama pendaki nekat Pos III. Alhamdulillah mereka dalam kondisi sehat. Alam berpihak pada mereka, karena semalam nggak jadi hujan. 

Di puncak kita foto-foto bentar di plang puncak Sindoro dan foto pakai tulisan-tulisan yang kertasnya kita pakai kertas bekas pendaki lain yang dengan pedenya mereka buang ke sembarang tempat. Setelahnya, kertas-kertas itu tadi kita buang ke trash bag yang Anga bawa. 

Salam kece kita berempat buat mbak budi. hahaha
1 jam kita di puncak, lalu turun ke Segoro Wedi yang luasnya berkali-kali lipat luas lapangan bola. Jalan di Segoro Wedi ini aku ngrasanya kayak jalan di planet lain. Karena saking luasnya dan lapang.
Puas foto-foto dan bikin video dokumenter, kita turun ke ladang sabana buat masak-masak. Isi tenaga buat perjalanan turun. Bagian masak-masak kuserahin sementara ke Si Gundul Tanjung dibantu sama Pram. Sementara aku lagi jadi medisnya Anga (lagi) karena pergelangan kaki dia sakit.
Perut Alhamdulillah udah kenyang, tenaga udah kembali on fire lagi. Tepat jam 10.00 kita melakukan perjalanan turun. Pasukan Punk In Love kembali melakukan ritual berdoa. Doa yang sama ketika kita akan naik. Bismillahirrahmanirrahim, wahai para ibu... anakmu pulang. 

Singkat cerita, kita sampai bawah jam 14.00. Berarti 4 jam kita turun. Kita salah jalur teman-teman. Hahaha. Harusnya kita turun tepat di jembatan Pos Bayangan. Tapi nyatanya nggak, kita bergeser agak jauh ke Basecamp Sindoro yang lain. Ini kaki rasanya udah nggak kuat buat jalan lagi. Mudah-mudahan ada pick up lewat. Dijabah do'a kita, ada pick up lewat dan kita diperbolehkan numpang bahkan dianter sekalian sampai basecamp Mbah Amin. Alhamdulillah. Terimaksih warga Tambi. 

Sampai basecamp kita disambut sama Mbah Amin. Dipersilahkan buat makan-makan dulu sama beliau. Nggak lupa juga kita beli stiker yang dijual buat kenang-kenangan sama titipan temen yang minta dibeliin. 

Jam 15.00 kita pamit ke Mbah Amin buat pulang ke Semarang. Kali ini kita ngejar waktu buat Tanjung. Karena Tanjung harus sampai di Asrama jam 20.00 lengkap dengan PDL nya. Kalau nggak, nanti dapet "snack" dari seniornya dan skors dari pihak akademi. Harapan buat menikmati es buah pupus sudah. Haha 

Memang selalu ada cerita di setiap perjalanan. Memasuki kawasan Bejen-Temanggung, motor Tanjung lepas rantai. Yang mengharuskan bongkar rantai se ban belakangnya. Udahlah hari minggu, manalah ada bengkel yang buka dan jual sparepart sepeda motor, di hutan pula ini kejadiannya. Akhirnya diputuskan, Pram sama Tanjung cari bengkel besar yang jual sparepart. Aku sama Anga jaga motor. 
Banyak di PHP in orang-orang yang lewat. Kebanyakan cuma ngeliat aja tanpa tanya kenapa, ada yang bisa dibantu. >_< 

Hampir satu jam nunggu, akhirnya mereka datang dengan bawa sparepart yang dibutuhkan. Ahh.. untunglah mereka laki-laki yang mengenal dunia permontiran, jadi bisa cepet. Kereeen caah!! ^_^
Selesai sudah tragedi motor Tanjung... kemudian kita pulaaaang!!! Tapi..tapi..tapi, baru beberapa meter dari TKP Tanjung, ini giliran motor yang aku tumpangi sama Pram yang bermasalah. Ban motor Pram bocor. 
Ya Allah.. apa yang sudah kita lakukan teman-teman. -_- 

Cari tambal ban dan ketemu. Tanjung sama Anga kupaksa buat jalan duluan, mengingat waktu itu udah jam 17.00. Walaupun sebenernya mereka berdua nggak tau jalan pulang. Haha. 

Nggak butuh waktu lama buat nambal ban, setengah jam kemudian aku sama Pram langsung melesat ke Semarang. Sampai di rumah Anga pas Adzan Isya'. Disambut sama senyum merekah Mamak. Alhamdulillah. 
Aku dan Pram bersih-bersih dulu dan makan sebelum pulang. Jam 20.00 kita berdua pamit. Pram mengantarku pulang, dan dia lanjut meneruskan perjalanan pulang ke rumahnya di daerah Mranggen. Bisa tidur nyenyak setelah Pram mengabari kalau dia udah sampai rumah, dan Tanjung yang juga tepat waktu sampai di Asrama. 

Sindoro, kau punya banyak hal untuk diceritakan...

Bukan seberapa kuat ataupun hebat, tapi mampu!! 
 
Share:

24 Oktober 2016

Cinta Pertamaku, Bapak

"Doa seorang ayah adalah bait-bait  puisi terindah untuk anak-anaknya, terutama untuk anak perempuannya yang senantiasa ingin dijaganya untuk selamanya.."

Bapak...
Laki-laki paling kolot sedunia menurut versiku. Yang selalu memegang teguh apa itu arti kepercayaan dan tanggung jawab.
Dua hal tersebut benar-benar jadi prinsip hidup bapak.

Perayaan lulusan SMA, baju seragamku bersih dari coretan-coretan tanda tangan teman satu sekolah. Karena sebelum nya bapak udah mewanti-wanti aku buat nggak ikut-ikutan temanku yang lain.

Pernah juga pas aku SMA, waktu perayaan tahun baru. Aku merayakan pergantian tahun bersama salah satu temanku. Dan kalian tau, ternyata diam-diam bapak ngikutin aku. Takut aku pergi jauh-jauh. Hahaa.

Dan masih banyak lagi hal-hal kolot lainnya yang bapak terapkan ke anak-anaknya. Tapi hal ini agak sedikit nggak berlaku buat anak laki-lakinya. Mungkin karena aku anak perempuan satu-satunya, jadi sedikit manut sama bapak. Sedikit lho yaa. Aslinya banyak membangkang dan keras kepalanya. Hahaa, maaf ya pak.

Bapak...
Aku ingat cerita bapak, bagaimana cara bapak meminang ibu. Gentle bin slengek'an menurutku, haha. Waktu itu dari Semarang dengan mengendarai vespa merahnya menuju kota Salatiga, ke rumah ibu dan tanpa sepengetahuan ibu. Sampai disana, bapak bertemu dengan mbah kakung (bapaknya ibu). Kalian tau, bapak dengan pede tingkat dewanya merangkul mbah kakung, kemudian berkata yang intinya "anak bapak buat saya saja. Percayakan dia ke saya pak". Udah...sesimpel itu!!
Ibu yang waktu itu bersama mbah putri (ibunya ibu) sengaja mendengarkan pembicaraan antara mbah kung dan bapak, cuma bisa senyum dan ribut sendiri.
Wajar lah bu, aku pun sama kalau diposisi ibu. Haha.

Bapak...
Seorang petinju pada masanya dulu. Banyak temanku yang nggak percaya kalau dulu bapak adalah seorang petinju. Sampai ketika mereka main kerumah dan kuperlihatkan foto-foto gagahnya bapak di atas ring tinju, baru mereka percaya. ^o^
Harapan bapak sih, ada salah satu anaknya yang meneruskan jejak bakat bapak tersebut, tapi lagi-lagi ibu yang paling lantang berkata nggak. Haha

Bapak ini jarang marah, tapi kalau sekalinya marah... Astagfirullahaladzim. Jangan lah kalian liat bapakku waktu marah. Urat kendalinya putus mungkin. Pawangnya ada dua. Ibu dan Mas.

Percaya, aku pernah dilempar helm sama bapak. Alhamdulillah berkat do'a ibu mungkin yaa, si helm meleset persis di sisi kiri kepala, nggak sampai kena pas mukaku. Masalahnya karena waktu itu aku habis marahan sama ibu.

Bapak nggak terima kalau sampai ada anak-anaknya yang kurang ajar sama ibu. Pernah, bapak mengunci ibu dan mas di dalam rumah. Biar mas bisa introspeksi dan minta maaf sama ibu. Bapak juga yang memarahi habis-habisan adik laki-laki ku, dan berakhir dengan diciumnya kedua kaki ibu oleh adikku sambil meminta maaf disertai tangisan keduanya.

Bapak...
Si penderita asma. Aku ingat, waktu kelas lima SD, asma bapak kambuh begitu hebatnya. Sampai udah menyebut Asma Allah, seakan maut udah di depan mata. Tetangga udah pada kumpul. Pokoknya waktu itu rumah udah ramai sekali. Bapak dibawa ke rumah sakit dengan ibu. Aku ditinggal bersama mas dan adikku. Aku menangis histeris, dipeluk erat oleh tetanggaku. Berdoa semoga bapak baik-baik aja. Beberapa jam kemudian ibu menelpon. Alhamdulillah kondisi bapak sudah stabil.

Bapak...
Supporter aktivitasku. Diantara ketiga anak ibu dan bapak, mungkin aku yang punya ketahanan fisik lebih kuat dibanding mas dan adikku.
Waktu SD, aku pernah mengikuti lomba atletik di Tri Lomba Juang. Bapak sangat mensupport. Bapak juga mendaftarkan aku untuk les renang, dengan harapan nantinya aku bisa lolos masuk Angkatan Laut. Keinginan bapak yang satu ini pun masih dibahasnya lho sampai sekarang. Dan lagi-lagi nggak terijabah. Maaf ya pak. :')

Waktu SD aku pernah mengutarakan keinginanku untuk menjadi seorang Paskibraka Nasional. Lalu apa yang bapak bilang, " Paskibraka tingkat Kota aja bapak udah bangga nok ". Harapan yang ini terijabah pak. Kelas dua SMA aku lolos masuk Pasibraka tingkat Kota Semarang. Bangga ya pak. Hehe
Bicara tentang Paskibra, seakan sudah menjadi passion ku sejak masa sekolah. Kegiatan Paskibra yang aku ikuti selalu nggak lepas dari support ibu dan bapak.
Apapun kegiatannya selama itu positif, ibu dan bapak selalu mendukung.

Bapak...
You know me so well. Haha
Ibu dan bapak tau kalau aku suka jalan-jalan. Jadi kalau beliau berdua mau pergi jauh, biasanya aku yang paling bersemangat untuk ikut dibanding dua saudara laki-lakiku.

Kalau pas pergi ke luar kota, biasanya bapak melewatkanku ke jalan yang belum pernah aku lewati sebelumnya. Jadi lebih jauh memang, tapi aku suka. Ibu yang sering protes, " lha kok lewat jalan ini to pak? Kejauhan! ". Lalu bapak jawab, "Yawes ben to bu, wong anak wedokmu seneng jalan2 kok".  2 vs 1. Ibu kalah telak. Hahaha.

Sudah berapa kali aku bohong sama ibu dan bapak terkait mainku yang terlalu diluar jangkauan. Demi mendapatkan izin dari keduanya, aku rela berbohong. Nggak baik, tapi dilakuin. Hahaha

Waktu ke Taman Nasional Baluran Situbondo seorang diri, aku nggak izin ke beliau berdua. Aku cuma izin kalau mau ikut seminar di Surabaya. Kalau seminar, aku beneran ikut. Tapi sebelum hari-H seminar, aku melancong dulu ke TNB.
Sampai di TNB, bapak tiba-tiba telepon buat memastikan kalau aku udah sampai kos temanku di Surabaya. Dan bapak waktu itu pengen bicara sama temanku. Duuuar..haha!! Aku panik. Teman siapa paak. Jarak tempuh Surabaya - Situbondo 6 jam. Yang ada malah bapak pemilik homestay Baluran yang aku tempati. Segera aku tutup telpon bapak dengan alasan kalau temanku belum pulang kerja dan aku capek mau istirahat.

Barulah waktu sampai Semarang, aku ngaku ke bapak kalau aku pergi ke Situbondo sendirian. Dan apa kata bapak, "Bapak tau, ndak mungkin kamu cuma pergi seminar dengan bawa tas sebesar itu. Wong sebelum kamu pergi, kamu tanya-tanya ke bapak soal KA jurusan Banyuwangi. Tapi tenang, bapak ndak bilang ke ibumu." Aaah... makasih bapak. You're the best. Lalu gimana reaksi ibu waktu aku jujur? marah-marah laah. Haha, maaf ya bu.

Ada lagi, waktu aku pergi naik gunung Merbabu. Aku izinnya ke ibu bapak kalau aku mau ke Dieng selama dua hari. Beliau berdua mengizinkan dengan berat hati sebenernya. Sampai dirumah, bapak tanya sambil senyam senyum,  "beneran ke Dieng?" Haha, ketawan yaa. "aku habis naik gunung Merbabu,pak." ^o^

Bapak...
Tidak pernah menanyakan aku sudah punya pasangan atau belum. Beliau cuma berpesan, carilah pasangan yang seiman, beriman dan bertanggungjawab.
Insya Allah pak. Semoga Allah mengijabah dan mempertemukan seorang pria yang kau percaya bisa membimbing dan membahagiakan satu-satunya anak perempuanmu ini. Aamiin.

Sapaan "Hai" yang selalu diucapkan bapak kalau aku udah sampai di rumah selepas pulang kerja.

Kata-kata "berangkat kerja jam berapa nok? Sarapan dulu yaa, kalau nggak ya sangu bekal. Bapak udah masak nasi lho."

Aaah..terharu aku pak. Sayang Bapak!!

Sehat selalu nggih, cinta pertamaku.

Semoga bapak selalu dalam lindungan Allah swt. Aamiin ya Rabbalalamin.

Share:

20 Oktober 2016

Utarakan

"Walau tak semua tanya datang beserta jawaban,
Dan tak semua harapan terpenuhi,
Ketika berbicara juga sesulit diam,
Utarakan..utarakan..utarakan..."

Banda Neira~Utarakan

                   ★★★★★★★★★

Ditengah lelah dan padatnya pekerjaanku akhir-akhir ini, aku masih bisa menjadi pendengar yang baik untuk temanku yang dilanda kegalauan asmara ala anak ABG.
Kudengarkan curhatan dia dari awal sampai akhir. "Udah curhatnya? Nih..ku kasih tanganku, remas kuat2. Luapin emosi kamu, nangis nggak apa2. Teriak boleh, asal nggak pake toa masjid!!" Hahaha, dia ketawa. ^_^

Jadi dari curhatan dia, aku bisa menarik kesimpulan kalau temanku ini sedang "dihiraukan" oleh kekasihnya.
Tidak berkabar selama beberapa waktu. Tidak bisa diajak untuk bertemu berdua, selalu saja ada alasan untuk menolak.

Ku minta temanku ini untuk berpikiran positif. Bisa jadi dia punya kesibukan lain, atau sedang menyiapkan suatu surprise buatmu. Doaku semoga surprise yang membahagiakan.

Jujur, aku juga trauma dengan kata-kata "dihiraukan" terlebih oleh orang yang kita kasihi. Jadi bertanya-tanya, dia kenapa? aku salah apa? aku harus bagaimana?

Dan pada akhirnya terjawab sudah. Kenapa kekasih temanku ini lebih memilih diam, daripada mengutarakan apa yang dia rasa. Bukan jawaban yang dia beri, melainkan sebuah keputusan.
Keputusan yang membuat air mata temanku luruh tak terbendung.
"Semoga kau dan aku menemukan kebahagian masing-masing"

Pesanku untukmu teman,
Boleh jadi kisahmu tidak berakhir bahagia. Tapi percayalah...meskipun dia sudah menemukan kebahagiannya bersama yang lain, kau pernah menjadi wanita yang mencintainya dengan gigih. Dan itu takkan bisa dilupakan olehnya. :')

Share:

17 Oktober 2016

Monday is my day

Hari senin ini aku merasa jadi terapis yang paling sering disebut namanya dan dibutuhkan kehadirannya. Berasa terkenal dan (sok) sibuk. Ujung-ujungnya jadi lelah luar biasa. ^~^

Jadwal hari senin ini bener-bener diluar dugaan. Biasanya senin pagi diawali visit pasien di daerah Pemuda dan Veteran. Tapi karena pasien Veteran lagi libur terapi, jadi jadwalku cuma visit pasien Pemuda aja. Setelah itu balik lagi ke klinik.

Sampai klinik, pas bos II bilang kalau aku dicari sama pasien stroke daerah Sriwijaya. Dan siang tadi disuruh buat visit. Tapi ku tolak karena pemberitahuannya mendadak. Visit kuganti hari selasa siang.

Lalu datang pak bos I, dia langsung nyari aku. "Tika, ayo breafing sebentar sama saya". "Siap, Pak!!" Jawabku tegas. Padahal aslinya maleeess betul kalau udah keluar kata-kata breafing. Sungguh.
Ini contoh pegawai yang nggak baik. Haha

Hasil dari breafing tadi sama pak bos I, aku diminta untuk membuat program latihan untuk pasien stroke Sriwijaya. Program latihan ini merujuk pada observasi yang aku lakukan saat pertemuan pertama dengan pasien tersebut. Jadi aku udah ada gambaran, pasien ini mau aku berikan latihan yang seperti apa. Bismillah.

Selesai breafing, datang seorang pasien anak dengan kedua orangtuanya tanpa reservasi jadwal lebih dulu. Mbak Yani menghampiriku, "Mbak Tika, ini anaknya yang aku ceritain kemarin. Mau stimulasi sekarang. Gimana, bisa nggak?"
Mau dijawab nggak bisa juga kasihan, udah sampai klinik. "Iya mbak, nggak apa-apa. Nanti aku handle."

Khusus untuk pasien stimulasi memang aku tegas dalam urusan jadwal penanganan. Biar jadwalnya nggak bentrok sama pasien stimulasi yang lain. Tujuan lainnya yang nggak kalah penting, agar penanganan stimulasi bisa lebih maksimal. Jadwal stimulasi juga harus disesuaikan dengan jadwal terapis. Terapis khusus stimulasi tumbuh kembang di klinik cuma ada dua. Aku dan Iken. Jadi pasien yang mengikuti kita, bukan kita yang mengikuti pasien.
Kalaupun ada kendala jadwal, nanti bisa dikomunikasikan dengan terapis yang bersangkutan.

Namanya adek Zavina. Si adek ini kooperatif sekali selama sesi stimulasi berlangsung. Nangis waktu mau selesai terapi aja. Lelah, haus, dan gerah. Mungkin itu yang dia rasa. Sama kaya Mbak Tika, naaak. ^~^

Zavina selesai, datang pasien stimulasi lagi. Kalau pasien yang ini memang aku jadwalkan setiap hari Senin jam 1 siang. Namanya adek Bazla. Sesi tadi aku coba ajak si adek hidroterapi, biar otot-otot yang dirasa spasme/tegang bisa rileks. Bukan dek Bazla namanya kalau nggak pake nangis pas "sekolah" sama Mbak Tika. Haha. Maafkan Mbak Tika ya naak. ^_^

Selesai Bazla, aku ishoma. Karena setelah itu bakal ada pasien stimulasi anak lagi. Kali ini pak bos I dan II menyuruh aku buat ikut melatih dan mengevaluasi pasien istimewa ini. Allahuakbar. Aku setrooong. *Pijat boyok* >_<

Dan jam 3 sore tadi, aku feel freeee!!! Walaupun sebenernya masih ada pasien by request yang mintanya sama aku.
"Mbak Tika, ini ada pasien mintanya sama kamu. Gimana?", "Mbak Tika, ini ada pasien usia 16 bulan mau minta stimulasi sama mbak." Dan kujawab, "BESOK". Mbak Tika lelah, butuh sandaran. #eh

Jadi sah-sah aja kan kalau aku bilang monday is my day?

Tetap Alhamdulillah...semoga lelahku menjadi berkah.

Teruntuk pasien stimulasi anak-anak.

Perjuanganmu luar biasa, kuatmu apalagi. Masya Allah.
Kami yang dewasa lebih banyak belajar darimu.
Tetap kuat, sabar, sehat, dan semangat ya nak.

Dari Mbak Tika, yang sering membuat kalian menangis. ^_^
Love you...

Share:

Music

Arsip Blog